Sabtu, 04 Desember 2010

Segenggam Ukhuwah KAPMI dijalanNya.

Setelah membaca beberapa kisah dari buku Dalam Dekapan Ukhuwah,aku tersadar bahwa ternyata selama ini teman-temanku yang berhimpun di jalan Dakwah adalah orang-orang yang berkorban untuk Agamanya, demi Ukhuwah. Meski waktu, jiwa dan raga telah habis di makan perjalanan untuk kepentingan untuk saudara, bangsa, Negara, dan Agama.
Ketika ku baca salah satu cerita yang mengisahkan tentang seorang bapak dan anak yang selalu berprasangka baik atas segala keputusan Allah untuknya, kisah seorang Menteri yang menyatakan Takdir Allah itu baik kepada Sang raja yang sedang terputus salah satu jarinya hingga membuat raja marah dan terpaksa membuatnya masuk kedalam penjara, seorang yang teguh pendirian, seorang yang berkorban untuk keluarganya, telah menginspirasiku untuk menceritakan sebuah pengalaman yang pernah di alami oleh teman-teman yang berjuang di Jalan Allah.

Berawal dari KAPMI, Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia itulah namanya. Mungkin nama KAPMI saat ini  belum terlalu terdengar dan masih terlalu asing di telinga banyak orang. Wajarlah.. Karena memang dari namanya saja sudah aneh dengan logo yang jadul ( kata orang.. hehehehe) belum terlalu eksis di Media saat ini. Tapi begitulah, sebuah nama yang telah menginspirasi hidupku ketika di masa-masa gentingnya keharmonisan antara dunia kelam yang selalu mengelilingi ruang hidupku dan dunia putih yang bersih, menyinari sekaligus menerangi hari-hariku untuk selalu mengingat Illahi. Di KAPMI sendiri, dipenuhi oleh orang-orang berwajah usang yang selalu berkorban untuk Agama dan martabat saudara-saudaranya. Merekalah yang telah menarik dan menyelamatkanku, merangkul tanganku dengan penuh kekuatan,dan keikhlasan dari terpelesetnya lubang di dunia yang kelam. Telah mengajariku arti pengorbanan, arti Ukhuwah. Terima kasih ya Robb, Engkau telah mempertemukanku dengan mereka.

Sungguh, aku pun tidak ingin meninggalkan kenangan itu. Kenangan yang telah Allah berikan terhadap kehidupanku di kesetiap harian dunia putih abu-abu dengan orang-orang yang berani berjuang di JalanNya tanpa membalas imbalan, berani mengeluarkan lembaran uang lusuh, uang terakhir yang dia miliki hanya untuk perjalanan mencari HidayahNya. Tak sedikit waktu yang mereka korbankan hingga berlarut-larut malam hanya untuk menyelamatkan saudara-saudaranya di medan pendidikan dari kebobrokan moral yang kini telah melanda dunianya. Mereka mencoba menjadi tameng dari segala kebobrokan moral itu agar tidak mencemari saudara-saudaranya yang lainnya. Turun ke jalan pun sering mereka lakukan hanya untuk menyelamatkan bangsa, agama, dan saudara-saudaranya. Demi Dakwah di jalan Allah, ia rela mengenyampingkan keadaan dirinya sendiri meski mungkin saat itu dirinya sedang lelah dan butuh pertolongan. Mungkin, mereka yakin bahwa ujian Allah untuknya adalah yang terbaik. Dan sebaik-baiknya tempat meminta pertolongan hanyalah kepada Allah.

Mungkin semua orang awam pun akan menghinakan mereka karena kecongkakannya dalam menatap hidup menurut pandangan keawamannya. Begitu pun menurutku. Tapi ternyata menurut mereka, tidak seperti itu. Di kesehariannya yang penuh dengan raut wajah kelelahan, mereka masih saja tetap senang, tetap berkecukupan, dan tetap istimewa karena keindahan pesona senyumnya. 

ya.. itulah.. sebuah memori indah.. yang mungkin tidak semua orang bisa merasakannya.. kenangan indah.. tapi yang lebih indah adalah Takdir Allah dengan segala gemercik lika-liku hidup yang Ia berikan kepada kita..

Dari buku Dalam Dekapan Ukhuwah, telah membawaku untuk mengingat sebuah kisah usang dari saudara-sadaraku di KAPMI, yang mungkin bisa menjadi renungan dan inspirasi buat kita semua.

inilah kisahnya.. Di awal tahun 2000an ketika KAPMI baru saja memasuki masa kejayaannya, ada seseorang yang mungkin tidak semua orang bisa melakukan sesuatu sepertinya. Perngorbanan di jalan Dakwah ini sungguh luar biasa. Awalnya ku rasa cerita ini hanyalah fiktif belaka, tapi ternyata kisah nyata yang tak terduga perjuangannya.
Inilah tokohnya, sebut saja Obet, seorang siswa sekaligus ketua KAPMI di daerah Jakarta Utara periode 2000-an, ia adalah seorang yang selalu berpakaian lusuh, tapi semangatnya tidak pernah runtuh.

Setiap hari, setiap kali ke sekolah yang cukup jauh dari rumahnya, ketika teman-temannya telah berbondong-bondong menaiki sepeda motor ataupun transportasi lain, ia hanyalah orang yang selalu menaiki sepeda bututnya yang sangat tua dan sudah lapuk dimakan usia. Di Parkiran sekolah, sepedanyalah yang menjadi sorotan semua orang ketika menuju parkiran sekolah karena pakriran sepeda itu di kelilingi oleh parkiran motor-motor yang elok, bersih, indah dipandang, dan terlihat sekali mahalnya motor-motor itu. Sedang sepedanya hanyalah sepeda yang sudah teramat butut dan lapuk yang hanya menjadi sampah pengelihatan karena kejelekansepedanya itu. Walaupun begitu, ia tiada pernah menyalahkan Takdir Allah untuknya dan tidak pernah merasa tersindir dengan kepunyaan rekan-rekannya, "Toh, semua itu hanyalah milik Allah" pikirnya mungkin seperti itu.

Sepeda itupun sering mengalami kerusakan yang cukup kronis ketika diperjalanan, mulai dari kebocoran ban yang sudah banyak tambalannya maupun kerusakan rantai sepeda yang sudah karat dan tak bisa bergerak, rem yang sudah tak bisa dipakai lagi sejak lama maupun kerusakan yang lainnya mungkin telah menjadi kebiasaan bagi hidupnya ketika bepergian kemana-mana dan sudah tidak lagi menjadi sebuah hambatan baginya untuk tidak pergi ke sekolah maupun menghadiri berbagai pertemuan, kegiatan Dakwah, maupun Syuro' dengan teman-teman KAPMI baik di tingkat Daerah maupun Wilayah. 

Ketika sepeda sedang rusak parah, tidak bisa dipakai, ataupun terpaksa harus di rawat di bengkel terdekat pun tak pernah meruntuhkan semangat dan menjadikan alasan baginya untuk tidak menghadiri berbagai macam kegiatan. Dengan tekad yang tinggi, jalan kaki dipertaruhkan untuk perjalanan yang sangat jauh sekali pun tak masalah baginya, asalkan ia bisa menghadiri berbagai macam kegiatan tersebut.

Jarang sekali dirinya ketika pulang sekolah langsung menuju ke rumah. Sebab dirinya selalu dipenuhi dengan berbagai kegiatan Dakwah. Walaupun begitu, pengembangan Ruhiyyah, ibadah, pekerjaan rumah, dll tidak pernah ditinggalkan meski diselingi berbagai kesibukan.

Mungkin menurutku, ruhhnya dibangun dengan keistiqomahan, dibina dengan dengan alam.

Dengan bersepeda, ia tidak pernah mengeluh dengan semua itu, dan mencoba untuk selalu datang tepat waktu di berbagai macam kegiatan meski dirinya saat itu dalam kelelahan. Padahal, jarak yang ia tempuh dengan sepeda bututnya cukup jauh, berkilo-kilo dan berjam-jam waktu dan tenaga yang harus ia korbankan. Tak ubahnya ketika sesampainya pada suatu tempat, raut wajahnya dipenuhi dengan debu jalanan, pakaiannya lusuh dengan keringat, tapi senyumnya seakan menerawang pikiran kita untuk selalu ingat dengan Syurga, yang sebegitu indahnya.. menjadi motivasi kita untuk mendapatkan keindahan itu.. dengan pengorbanan, doa, dan keyakinan tentunya.

mungkin dalam pikirannya, ia adalah makhluk yang penuh dengan dosa, tapi ingin menggapai syurga meski pun harus mengorbankan seluruh jiwa raganya..

Suatu hari, ada ta'limat untuk Obet agar ia dapat menghadiri Syuro' di Sekrtariat KAPMI DKI Jakarta yang ketika itu tempatnya berada di Daerah Mampang Prapatan Jakarta Selatan. Karena ketrbatasan uang saku, sepeda pun selalu menjadi penopang dirinya agar bisa hadir dalam Syuro' tersebut.  

Sebenarnya ia sudah sering mengayuni sepeda bututnya dari Jakarta Utara menuju Sekretariat KAPMI  DKI yang berada di Jakarta Selatan, namun kali ini ternyata ada keganjalan ketika ia berada didalam perjalanan. Allah mengujinya dengan kebocoran salah satu ban sepeda miliknya ketika sudah melakukan setengah perjalanan jauh, tepatnya di daerah Jakarta Pusat.

tapi dengan Azzam yang kuat, ia tidak menyerah untuk menghadiri Syuro' tersebut.. meskipun pada saat itu ternyata ia pun kehabisan uang saku, tidak punya uang sama sekali untuk menambal ban sepedanya yang bocor. Akhirnya, sepeda itupun ia tenteng dengan sepenuh tenaga menuju ke arah Mampang Prapatan yang jaraknya masih terlalu jauh. 

Ketika di perjalanan menenteng sepeda yang cukup jauh, akhirnya ia putuskan untuk menitipkan sepedanya di salah satu warung penjual Bakso yang menetap di pinggir jalan dalam keadaan yang cukup lelah. " assalaamu'alaikum.." di ucapkannya pada penjual Bakso tersebut. Ketika tukang Bakso menatap wajahnya, ia pun terheran-heran dengan wajah asing orang ini. Meski pun begitu, tukang Bakso itu pun menjawab salamnya "..wa'alaikum salaam..". Obet pun menyambut jawaban itu dengan senyuman yang menandakan keikhlasan kepada sang penjual Bakso meski keringat di wajahnya sudah berlumuran mengucur ke seluruh tubuh karena perjalanan siang terik mentari Jakarta yang hingga sore hari pun tak kunjung turun dari permukaannya. Interaksi diantara keduanya pun berlangsung.

Obet: ".. permisi.. pak, boleh saya minta bantuan bapak untuk menitipkan sepeda ini ke bapak.." dengan keharmonisan bicaranya.
tukang bakso. "..hem....boleh-boleh saja dek,.. memang sepeda kamu kenapa? tapi bapak cuma buka warung ini hanya sampai jam lima sore lho dek.."
lalu Obet pun menjawab dengan senyumnya yang indah.
Obet: "oh.. ini pak, sepeda saya tadi bocor di jalan.. tapi saya masih harus ke Mampang Prapatan karena teman-teman menunggu saya di sana.. mudah-mudahan saya bisa ya pak sampai jam lima di sini.. tapi kalau tidak, mungkin bapak bisa menaruh sepedanya di samping gerobak bapak sambil diikat dengan rantai dan gembok ini.. nanti biar saya yang mengambil.. hehehe.. " dipenuhi dengan gurau keakrabannya.
lalu tukang bakso itu pun menjawab sambil bertanya.
tukang bakso:" yo wess.. bisa dek.. tapi kamu ada ongkos gak buat ke Mampang.."
Obet:".. ooh, kalo urusan ini sih saya siap pak untuk jalan kaki sampai Mampang.."  
tukang bakso:"memang kamu dari mana asalnya..?."
Obet: "dari Jakarta Utara.. pak..". tukang Bakso pun cukup tercengang dengan ungkapan itu.
tukang bakso:"hah.. jauh sekali dek.. yaudah, ini saya kasih uang ke adek Rp. 4000 cukupkan buat pulang pergi dari Mampang ke sini.." sambil mengocek-ngocek tempat uang di gerobak Bakso, mengambil Rp.1000an 4 lalu di tadahkan kepadanya.
Obet: "waah.. pak, jangan repot-repot.. saya masih bisa kok jalan kaki.." dengan keragu-raguannya atas perkataan tukang Bakso itu.
tukang bakso:"udah.. ambil aja.. anggap aja Allah nitipin uang buat kamu dari saya.."
dengan sedikit terpaksa, akhirnya uang pemberian tuang Bakso itu diambilnya.
Obet:" ini saya ambil pak.. maaf ya.. kalo sudah merepotkan bapak.. insyaAllah sepulangnya saya ketempat ini akan menggantikan uang bapak.. terima kasih ya pak.. mungkin saya pamit dulu.. takut terlambat untuk datang ke tempat itu.. Assalaamu'alaikum.." di sampaikan salam terakhir itu dengan senyum indahnya.
tukang bakso: "wa'alaikum salaam.." dengan jawaban yang harmonis dari tukang Bakso itu.

Akhirnya ia pun bergegas menunggu bus KOPAJA P20 jurusan SENEN-LEBAK BULUS yang melewati daerah Mampang Prapatan. Tidak lama kemudian bus itu pun datang. Akhirnya ia menaiki bus itu meski pun sudah terlalu pengap dan sumpek karena banyaknya penumpang di dalamnya.

Sesampainya di Sekretariat KAPMI ternyata ia terlambat 30 menit dengan penuh penyesalan, teman-teman yang hadir dalam Syuro' itu pun menanyakan tentang alasan keterlambatannya. Setelah keterlambatannya di klarifikasikan, akhirnya teman-teman di dalam Syuro' itu pun memahami keadaannya. Suasana sore pun menghiasi suasana Syuro' itu. Matahari pun kian menurunkan pandangnya dari Kota kepenatan Jakarta, agenda-agenda Dakwah pelajar pun kian tercetuskan dari Syuro' yang di penuhi kaum intelektual muda itu. Kumandang Adzan Maghrib pun memanggil. Syuro'pun langsung ditutup. Seluruh peserta Syuro' pun bergegas menuju ke Masjid yang tak jauh dari Sekretariat KAPMI.

Obet pun menginggalkan tasnya dan Al-Qur'annya di Sekretariat, dengan semangatnya ia langsung menuju Masjid hingga lupa membantu teman-temannya yang masih beres-beres tempat Syuro' tadi. Sholat pun berlangsung.

Seusai Sholat, dzikir, dan Sholat Ba'diyah, Obet pun langsung bergegas dengan teman-temannya menuju Sekretariat untuk segera mengosongkan tempat itu agar sesampainya di rumah mereka masing-masing tidak terlalu malam.

Sesampainya di Sekretariat, Obet langsung mengambil tasnya sambil menaruh Al-Qur'an miliknya untuk di taruhkan ke dalam tas miliknya. Ketika membuka tas, ia terbingung-bingung, ternyata di dalam tasnya ada kresek hitam berbungkus yang bukan miliknya, ketika di lihat, ternyata kresek itu berisikan nasi bungkus dan sejumlah uang. Obet pun langsung menanyakan hal itu kepada teman-temannya yang masih di Sekretariat " Akh, ini bungkusan siapa..?". Ketika teman-temannya di tanyakan seperti itu justru mereka semua memberikan senyuman indah kepada Obet. Salah satu diantara mereka ada yang berkata, " Akhina Obet, itu rezeki Antum kali. hehehe.". Obet pun makin bingung, sedang teman-temannya justru memberikan senyuman kepada Obet dan membiarkan Obet tetap dalam keadaan bingung. Lalu Obet pun berkata "yo wess.. bingkisan ini ana taro di meja yo..". Ketika Obet menyatakan hal seperti itu, justru teman-temannya menyangkal. "udah bawa aja.. mungkin rezeki antum kali akh.. serius..". dengan keterpaksaan, akhirnya Obet pun membawanya.
" yaudah.. ini ana bawa ya akh.. nanti kalo ada orang yang nyariin kresek ini tolong bilang ke ana.. ana ga'k bakal mengambil kresek ini yang bukan hak ana insyaAllah.. ana pamit duluan ya.. afwan.. takut telah ni.. hehehe..  Assalaamu'alaikum.." Obet pun bergegas meninggalkan tempat itu sambil menggendong tas dan menenteng kresek itu sedang teman-temannya pun menjawab salam dari Obet dengan penuh senyum ketulusan.

Dalam perjalanan yang belum jauhpun, ia masih bingung dan terasup pikiran yang tidak biasanya akan kepemikian bungkusan misterius ini yang ada di tasnya. Mungkin, ia mencoba untuk berprasangka baik pada ujian Allah kali ini. Baru beberapa menit perjalanan, tiba-tiba Ikki, Mas'ul KAPMI DKI Jakarta, langsung berlari-lari kecil berusaha mengejar langkah Obet. " Akh, udah makan aja kressek itu sama Antum" sahut Ikki pada Obet dengan teriakan yang cukup keras. Obet pun tersentak bingung dan serasa tak biasa dengan perlakuan itu. "lho, ini kan bukan hak ana..". dengan senyumnya, Ikki pun menjawab sambil berlari menuju Obet dan langsung memegang pundaknya " udah.. makan aja.. di kresek itu ada nasi dan uang buat antum dalam perjalanan.. itu semua amanah dari teman-teman KAPMI untuk antum.. di makan okee.. hehehehe..". "waah, antum baru bilang sekarang sih.. kalo antum bilang dari tadi udah ana makan duluan ni.. hehehe.." jawab Obet dengan nada canda tawanya. Ikki pun menyahut kembali "yo afwan Akh.. skenariokan di buat sama Kholid.. kalo antum mau salahin, salahin kholid aja yo.. jangan salahin ana okke..  hehehehe..". "hahahaha.. antum ada-ada aja.. Jazakallah ni sudah di beliin.. yaudah.. ana pamit ulu ya.. supaya sepat sampai rumah.. Assalaamu'alaikum.." sahut Obet dengan senyum indahnya. "..wa'alaikum salaam.." jawab Ikki sambil menggelorakan senyum dan melambaikan tangan pada Obet sebagai tanda selamat jalannya.
**

Tanpa sepengetahuan Obet, ternyata seusai Syuro' teman-teman KAPMI mengumpulkan uang untuk Obet, lalu dibelikanlah Obet sebungkus nasi padang sekaligus di selipkan uang di dalam kresek lalu tanpa sepengetahuannya, di taruhkan kresek itu di dalam tasnya.
**

Sekitar jam setengah delapan malam, Obet pun sampai di daerah  tempat tukang Bakso itu. Meski pun penuh dengan lelah, ia pun bergegas mencari Masjid  untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu sebelum menuju lokasi yang di tuju walau pun dalam keadaan masbuk. Seusai Sholat, barulah ia memakan nasi bungkus yang di berikan oleh teman-teman KAPMI, nasi bungkus pun disantapnya dengan lahap mengingat memang ia belum makan dari siang tadi disertai diri yang penuh lelah dan harus sesegera mungkin menambah stamina lagi.

 Seusai itu semua, Obet pun melakukan perjalanan lagi menuju warung itu. Sekitar 20 meter dari warung Bakso itu, ternyata ada suatu hal yang mengganjal bagi Obet yang menjadi berbagai pertanyaan dalam pikirnya ketika itu. Keganjalan itu terjadi ketika Obet melihat warung Bakso itu belum tutup, padahal tukang Bakso itu bilang kalau warungnya itu tutup jam lima sore, tapi mengapa sampai malam ini warung itu belum tutup juga.

Langkahnya pun kian mendekati warung itu, ternyata keganjalannya terhadap warung itu pun makin bertambah, di lihatnya gerobak warung itu, tidak ada satu pun sepeda yang di senderkan ke gerobak itu, padahal Obet berpesan kepada tukang bakso itu untuk menaruhnya di gerobak ketika Obet tak bisa sampai ketempat itu jam lima sore.

Berbagai pikiran pun kian merasuki dirinya, seakan penuh dengan pertanyaan bagaimana?bagaimana? dan bagaimana? 
Meskipun begitu, ai berusaha untuk tetap berkhusnuzon akan keganjalan ini. sesampainya di sana, ia bergegas menyalami dan menanyakan sepedanya kepada penjual bakso itu yang kebetulan sedang beristirahat di bale' samping gerobak baksonya. dengan tenang, tukang Bakso itu menunjukkan sepeda miliknya yang ternyata disimpan oleh tukang bakso itu di belakang kiosnya. Ketika Obet melihat sepedanya, ternyata ia ternganga' dan terpaku di tempat itu juga, karena ban sepeda yang bocor sudah di tambal, remnya pun sudah pulih kembali. Obet pun langsung bertanya kepada penjual bakso itu, " pak, ini siapa yang membenarkan sepedanya..". Dengan tenang, penjual Bakso itu pun menjawab ".. mungkin Allah sedang menitipkan rezeki ade ke saya dan di suruh untuk membenarkan sepeda adek.. rezeki Allah jangan ditolak lho... hehehehe.. " dengan terngengah, dan malu tak berdaya. Obet pun terdiam sejenak dan dengan agak malunya ia berkata" baik, ini semua saya terima yo pak.. terima kasih sudah di benarkan.. maaf ya pak kalo merepotkan..".Dengan senyum, penjual bakso pun berkata, ".. gak papa dek.. justru saya merasa malu dengan ade.. karena ade taat banget sama Allah... sedang saya sholat masih belum bisa tepat waktu.. toh, gara-gara nungguin ade di warung sampe malam ini jadi pelajaran lho buat saya.. untuk bisa sholat maghrib dan Isya' berjamaah.. kalo kemaren-kemaren biasanya di pakai untuk langsung tidur.. terima kasih yo dek.." suasana pun ternyata makin harmonis diantara mereka.

Lalu Obet pun pulang dengan sepedanya dalam keadaan yang lebih baik dan nyaman di malam itu. Dengan kebahagiaan.. setelah berkorban.. setelah Allah uji.. setelah ketulusan hati.. pertolongan Allah pun datang.

 Penuh rasa syukur, ternyata Ujian Allah untuknya itu sangat baik. Tinggal bagaimana cara kita berprasangka baik pada Allah.

Semua Ujian Allah memang terkadang membuat kita merasa sulit, tapi yakinlah bahwa Allah memberikan ujuan kepada kita untuk kebaikan kita juga. Tinggal, bagaimana kita mempersepsikan ujian Allah itu. Seperti dalam cerita yang ada di buku Dalam Dekapan Ukhuwah karya Salim A. Fillah telah menginspirasi kita untuk selalu berprasangka baik pada Allah walau bagaimana pun ujian itu. Begitu juga dengan cerita ini.  “ku tak tahu ujian ini berkah atau musibah, tapi ku hanya berprasangka baik pada Allah”.


*terinspirasi dari kisah nyata yang memang pernah terjadi di KAPMI.

Selasa, 23 November 2010

indahku bersamamu

Setiap hari kita selalu berusaha untuk mencari kehidupan yang penuh dengan onaknya. indah sekali kehidupan ini yang selalu di taburkan suka duka bersama seorang sahabat yang selalu memberikan inspirasi bagi kita semua. kita kerap berkumpul bersama di dalam naungan kehidupan dunia, merangkai bangunan cita,berharap selalu bersemai mencari kasihNya agar kelak mendapatkan Syurga yang sebegitu luasnya. ya.. itulah sahabat..

kita selalu mencoba saling bercengkrama dalam tautan masa depan. saling berdoa agar semua doa kita di kabulkan..

Sungguh indahnya masa-masa suka duka bersamamu, di saat Allah menguji kehakikian persahabatan ini dengan berbagai kenangan pahit, kita mencoba untuk tetap teguh membangun keharmonisan diri dan saling melengkapi kekosongan hati yang telah tersakiti dengan ketulusan pengorbanan dari seorang sahabat.

ya.. itulah sahabat...

sungguh indahnya menatap masa depan bersamamu, dengan keindahan cinta dan pengorbanan, semua kecongkakan dan kekurangan dunia yang kita miliki saat ini terlupakan, karena dengan hatilah kita sadar bahwa semua ini adalah kekuasaan Allah yang tiada pernah kita miliki.. Semoga Ridho Alloh merestui kita semua dalam perjalanan ini..

Sahabat,rasanya ingin aku menangis ketika mengingat masa indah bersamamu, rasanya sulit sekali ku pedam kenangan ini di dalam hatiku. kenangan-kenangan ini seakan membawakanku pada rasa ingin selalu bertemunya aku denganmu. dengan kejujuran hati, aku ingin sekali bertemu denganmu didalam naungan Ridho Illahi.. kau selalu mengajariku arti sebuah kehidupan.. menasehatiku menuju kehakikian iman.. menerawangiku dengan keindahan Syurga, mengecamkanku agar terhindar dari perbuatan kaum-kaum Neraka..

ya.. sahabatku.. itulah..

Kita bersemai  lalulalang di alam bebas tanpa batas waktu yang menentu, mencoba saling mengisi kekosongan iman, mencoba saling merangkai masa depan..

dengan penuh semangatnya kita saling berbagi, dengan penuh gembiranya kita saling mengasihi, dengan penuh kepedihannya kita akhiri persahabatan ini yang dibatasi oleh waku..

teringat sore itu, ketika kau tuliskan sebuah surat cinta untuk Allah, lalu kau terbangkan surat itu dengan layang-layang indah yang kau buat sendiri, berharap surat ini menjadi sebuah cintanya pada Allah, dan terinspirasi bagi semua insan yang membaca surat itu.. sungguh, kenangan itu..

namun di Jumat siang itu, kau meninggalkan jiwaku.. kau telah dipanggil oleh Allah dengan tragedi kebocoran jantung hatimu ketika perjalanan menuju tempat Ta'lim itu..

meski kesedihan kian menghampiri, tapi ku yakin.. inilah jalan yang terbaik dari Allah untukmu..

Sahabat, ingalah selalu akan segala kenangan kita.. Allah telah menakdirkan kita di batasi oleh kehidupan dua alam yang berbeda..

namun hati ini tetap akan mengingatmu sahabat...

di waktu kecil kita tak sadar akan kenangan ini.. tapi kini memori itu kian membekas dalam saraf-saraf otakku..
di waktu dewasa sungguh rasa sayang dan ingin bertemu pun kian serasa membosankan jiwa.. tapi sungguh mengejutkan hati.. menyejukkannya.. ketika Kau mengajariku dengan keTauhidan Iman.. yang telah diwariskan Rasulullah Sholallahu 'alahi wa sallam..

Ya Allah, jagalah ia untu selalu dalam RahmatMu... Naungilah ia dalam Ma'rifat kepada Mu..
 peremukanlah kami kembali dalam surgaMU.. Allahumma Amiin..

Senin, 22 November 2010

negri mati

Mungkin puisi ini tidak indah untuk dibaca,didengar, maupun diucapkan.. terlebih di perhatikan..
Dibuat oleh orang yang tidak dikenal, terlebih orang yang biasa-biasa saja..

Tapi.. coba Anda bayangkan..
Puisi ini adalah celotehan anak Bangsa..
Yang kedudukannya sama dengan petinggi Negri dimata Tuhan..
Sebuah sineas kehidupan.. di Negri sunyi ilmu, ricuh merebut kekuasaan Bangsa..

Mungkin, inilah potretan Negri kita..
Negri indah..  damai, dan sentosa..
Rakyatnya pun makmur dan sejahtera..
Tak ada kericuhan.. apalagi kecongkakan belaka..

Akankah ini mimpi..

Harmoni hidup di Negri kita..
Sawah, ladang, hutan, pertambangan, dan lautan merebak ruah di sekitar kita..
Inilah Surga dunia yang sebenarnya…
Segala fenomena alam terindahkan..
Terlihat jelas dari kelopak mata, pandang kita..

Tapi.. pernahkah  Anda bayangkan.. tentang arti sebuah Kemerdekaan.. petinggi Negri telah menetapkan.. bahwa Bangsa ini Merdeka.. 17 Agustus 1945 Negri ini terbebas dari penjajah..
Benarkah demikian..

Keluarlah dari pintu rumah, dan lihatlah ke pelataran jalan..
Berapa banyak orang yang mengais hidup di Trotoar jalan..
Seluruh Nusantara.. jutaan manusia.. Indonesia..

Mereka kelaparan.. tertindas, dan terhinakan..
Di usir sana-sini bagaikan hewan..
Hartanya terampas oleh para penguasa..
Harga dirinya tertindas oleh cercaan semua insan..
Mungkinkah alam pun demikian..
Apakah ini yang disebut Negri..
Masyarakat kecil kian terbasmi.. terberanguskan dimuka Negri..
Dengan berbagai cara..
Sedang Penguasa berwara- wiri..

Inilah penjajahan yang sebenarnya..
Penjajahan yang paling menghinakan..
Ini sebuah penghianatan…
Ternyata kini kita dijajah oleh Pewaris Bangsa kita sendiri..
Dikuasai oleh si hidung jabatan, tangan-tangan kotor yang keji..

Seakan Negri kita adalah Surga penjajah..
Merebah ruah koruptor dari berbagai wajah..
Pendidikan pun kini tinggal sejarah..
Runtuh.. terjajah..
Tak menyisakan indah..

Anda bayangkan, kini, di Negri ini, kita di ajarkan bukan untuk saling berbagi, member, apalagi saling mengasihi..
Tapi kita diajarkan untuk berlomba, berlomba, dan berlomba memperbanyak harta..
Tanpa malu dan pandang bulu.. tanpa belas kasihan seakan seperti Anjing liar yang tak punya hati..
Memakan darah daging manusia..
Yang kini hanya tertinggal nama..

Wahai petinggi Negri.. malulah..
Jangan kau malu pada kami, rakyatmu.. tapi malulah pada Tuhan..
Karena dalam hatimu terdapat penuh dengan kecurangan..
Kedengkian..
Dan kemunafikan..

Berangkatlah dari hati..
Jangan berangkat dari diri..
Hingga kau sadar sendiri.. bahwa Tuhanmu akan membalas..
Membalas semua tingkah lakumu..
Lalu, antara dua kan terjadi.. kekal indah di Surga, atau hanya siksa Neraka selamanya..

Duhai manusia..
Kitislah terhadap pembijak Negri..
Bangunlah Spiritmu..
Maka kejayaan Negri ada di tanganmu..

Berharaplah pada Tuhan, agar Negri ini diberi perlindungan..

karya: Digdot FA

SURAT UNTUK SAHABAT.. (DETIK-DETIK MENUJU PERPISAHAN KITA DARI DUNIA PUTIH ABU-ABU)

indah nian kutapaki hidup bersama kalian.. meski terkadang kita tenggelam didalam dunia yang kelam.. bermain, bercengkram meraih asa menjadi suatu obsesi kita bersama.. selama tiga tahun ini kumerasakan aroma manisnya persahabatan yang kita jalin bersama.. ditengah kejamnya Jakarta kita masih dapat menjalin cinta.. ditengeh gemerlapnya dunia kita berjuang bersama meraih asa.. sungguh nikmatnya ku berpangku dengan para sahabat yang ku cinta ini.. 

canda tawa yang kita lantunkan adalah suatu sejarah yang telah kita ukir bersama disepanjang jalan terjang hidup yang kita lewati bersama.. semua duka cita, ria yang telah kita lewati telah menjadi sajak-sajak cinta didalam hati ini.. malam yang kita lalui bersama ditengah perjuangan yang suci telah menenggelamkan kita kedalam indahnya hidup.. 

begitu banyak kenangan yang telah kalian berikan sepanjang kita berada di zona kehidupan yang kelam.. zona yang membuat muka kita bertabur lebam.. tapi itulah bukti pengorbanan.. kita adalah segolongan kaum-kaum yang tertindas oleh zaman.. yang selalu hidup menelantar disiang malam.. mengarungi masjid-masjid yang menjadi tempat kita bertemu.. tidak sedikit marbot masjid yang mengusir kita ditengah pertemuan.. kita berlari secepat mungkin... bergandeng tangan.. berjabat merangkul.. berbagi kasih ditengah-tengah kota sejarah ini.. trotoar kota malam telah menjadi saksi perkumpulan kita yang mengarah pada sebungkus nasi yang kita beli bersama dengan nikmatnya kita memakan bersama hingga semua mata-mata malam terpana pada kita.. 

putih abu-abu yang selalu kita kenakan bukanlah suatu mode pendidikan.. namun inilah pakaian perjuangan yang telah mendarah daging selama tiga tahun ini.. sudah banyak debu-debu trotoar jalan, bis kota, yang menempel ditubuh kita telah menjadikan kita suatu sejarah olehnya.. 

kita bersorak sorai bersama.. hingga toa-toa jalanan terusik oleh kita.. mobil-mobil sedan bergumel melihat keberadaan kita yang sedang membahu gelora juang di sepanjang jalan.. tak sedikit orang-orang berharta menyandang kita pelajar murahan.. sedang simobil tua selalu mendukung kita untuk tetap bersorai meski datang malam gelap.. agar kita mampu membela.. mampu berbuat.. mampu bersikap.. menjadi pelajar yang sejati.. menjadi pelajar yang hakiki.. yang akan kita pertanggung jawabkan pada Illahi Robbi.. 

ternyata tidak selamanya kenangan indah itu terukir oleh teman sekolah.. buktinya, telah kita sandangkan sejarah arti sebuah sahabat dikekelaman zaman.. kita menyatukan visi.. berobsesi meraih mimpi dengan penuh cinta diantara kita.. meja empuk sekolah telah menidurkan kita akibat lelah yang kita peroleh selama berjalan bersama meraih mimpi.. 


kuberikan sebuah rasa ibaku padamu teman... yang selalu membuat ku iri pada kalian.. pada keimanan kalian.. tumpahkanlah iman kalian untuk dicicipi oleh saudara-saudara kita yang sedang kehausan iman.. biarlah jiwa kita terus berjuang.. yankinlah.. ajal yang akan memberhentikan kita bergelora bersama meraih asa.. 
kini tiba saatnya hari-hari yang akan kita lalui penuh dengan perpisahan.. namun bukan berarti sejarah kan hilang.. kini ku ingin kita kan tetap berkumpul bersama meski jasad kita kan terdampar dimana-mana.. jangan lupakan adik-adik kita.. berilah ia penejuk iman untuk selalu dapat berjuang demi keridhoan yang hakiki,.. 

meski kita jarang bertemu.. namun banyak ukiran cinta yang sudah menyatu diantara kita.. perpisahan bukanlah menjadi suatu alasan kita berhenti berjuang sobat.. 

semoga didalam perpisahan ini bisa menjadikan inspirasi hidup baru kita menapaki jejak cita yang telah kita impikan.. semoga Allah kan mempertemukan kita diJannahNya.. yang teramat indah untuk kita semua.. Amiin ya Robb...




karya: Digdot FA

ada cinta di juang KAPMI

sobat, telah banyak kita lewati segala rintangan yang dipenuhi dengan fenomena hidup yang kita rasakan. namun yakinlah bahwa semua ini adalah bukti kasih sayang Allah terhadap seorang hambanya sehingga ia menguji kita dengan segala nikmat dan dukaNya agar kita dapat berfikir cerdas dalam menghadapi segala rintangan menuju taqwa yang lika-likunya tidak akan bisa terhitung banyaknya. namun, berharaplah setiap bangun dan tidurnya kita selalu mengharapkan berada disisiNya hingga kita terjauhi dari segala sifat yang dibenci oleh Allah swt.

kini kan ku lunturkan media elektronik ini dengan penuh celotehan yang kerap ku rasakan. bukan bermaksud pamer, namun segala lembaran hitampun sangat kita butuhkan dalam hidup ini untuk selalu mengingat betapa buruknya lembaran hitam kita yang harus kita jadikan sebagai pemicu hidup untuk meningkatkan taqwa, taqwa, dan taqwa.

berawal dari kenistaan, kini ku hadir ditengah-tengah manusia pecinta peradaban. bayangkan kawan, walaupun mereka pelajar namun yang dipikirnya bukanlah " kapan kita main, bersenang sendu dan bercanda gurau" layaknya pelajar masa kini. melainkan merekalah yang peduli memikirkan masa depan pelajar baik buruknya untuk generasi kedepan itu sendiri walaupun mereka hanyalah seorang pelajar biasa yang ingin menjadi luar biasa tentunya. di lain sisi, mereka adalah pelajar yang terlalu tua karena banyak diantara mereka yang telah beruban sebelum memasuki masa tuanya dan selalu menampakkan sinar aura wajah cerah mereka yang dipenuhi dengan kerutan kecemasan dimukanya.

itulah KAPMI, ternyata, persepsiku selama ini terhadap pelajar salah. awalnya kuberpikir, " hari gini ada pelajar yang bener itu udah ga mungkin. apalagi peduli agamanya. sholat aja jarang".. namun semua pernyataan ini terbantah pula oleh pelajar-pelajar the spirit of generation di KAPMI. setelah sekian lama ku pegang persepsi itu dan bahkan mengira-ngira bahwa dizaman yang serba munafik ini sudah tak mungkin ada lagi pahlawani dimuka bumi ini kecuali di Palestina sana. karena kebanyak sekali orang yang menyatakan dirinya punya hati nurani namun kebanyakan berbuat baik karena ada maunya. tapi semua itu telah pudar karena kepemudaan KAPMI yang selalu mengharap untuk menjadi generasi robbani dizaman yang serba aneh ini.

beranjak diamabang kepiluan yang selalu menjelma didalam raga ini membuat jari-jemari yang mungil ini tak kuasa ingin menuliskan ribuan kata cinta, sayang, haru, dan duka yang selama ini mereka hadapi. semoga dengan semua ini kita mengerti akan keberadaan mereka yang berada di alam bebas namun bermataforgakan medan perang dilembah perjuangan.

sobat, tahukah kamu. sejuta kenangan telah tercipta didalam mata rantai yang kerap binarnya takkan henti ini. penuh dengan duka yang sangat mengharukan. namun duka yang selama ini mereka rasakan selalu ditaburi dengan cinta rasa kebersamaan. merekalah seorang pejuang, dengan lantangnya menegakkan kebenaran ditengah-tengah peradaban. bergemuruh bersama bersatu padu dengan segala kondisi apapun mereka takkan pernah henti menyerukan kebenarannya dengan derap perjuangan yang telah mendarah daging didalam hati seorang pejuang yang selalu menggebu-gebu hatinya tanpa ragu.

terkadang mereka adalah sang bolang ditengah malam. dengan memakai pakaian perjuangan putih abu-abunya bagi mereka takkan pernah luntur semangatnya meski terkadang harus mereka relakan tengah malamnya berada dijalan dengan semangat melangkahkan kakinya ditengah kota metropolitan yang penuh dengan kebisingan. terkadang merekapun merelakan tidur panjangnya hanya untuk membangun satu rumpun perjuangan hingga merekapun terpaksa hanya bisa tertidur didalam bis kota yang penuh dengan debu dan usang ketika pulang dan pergi sekolah. tak ada ongkos, jalanpun jadi. itulah prinsip yang mereka bangun demi membangun martabat anak bangsa yang lebih cerah. kiloan meterpun tak akan membuatnya lelah, gelisah, dan gundah walau sesekali kakinya sakit. namun justru didalam kiloan meter itulah mereka berharap, "agar disetiap langkah ini ku selalu mengharap Ridho dan pahalaMu ya Allah"..

tangisan cinta selalu menaburi kisah yang baru diantara mereka. disaat banyak diantara kita yang Allah sedang uji dia dengan musibah namun tetap takkan pernah luntur hatinya demi berjuang. sakit bukan alasan, karena sampai titik darahpun akan mereka korbankan didalam perjuangan.

dilain sisi, sering sekali rasa gembira ditampakkan oleh wajah-wajah kusam mereka, canda tawanyapun layaknya seorang pejuang sejati. memang berat menegakkan Izzah Islam dimukabumi ini, tapi ada harapan untuk melewati zona ini. 

dengan impian syurga, tanpa ragu mereka mengorbankan harta jiwanya walau terkadang mereka lupa akan dirinya sendiri. namun inilah perjuangan yang mereka lakukan untuk menjadi manusia yang mulia dengan harapan mereka dapat bertemu kembali di syurganya Allah yang begitu indah nanti.

merekalah berandalan sebenarnya. berandalan yang selama ini dicari-cari oleh polisi akibat ulah nekatnya yang berani menyorakkan kebenaran meski harus menyerukan di tengah-tengah pemerintahpun takkan menyuruti langkahnya. berandalan yang selalu mencari pahala disetiap saat tanpa kenal kondisi dan waktu mereka tetap mencari. berandalan yang terkadang narsis didepan didepan foto maupun sorotan media walau ketika itu penampilan hanya alakadarnya. baginya, meskipun pakaian cumplang-campling sekalipun akan mereka pakai asalkan menutup aurat ketimbang pakaian mahal hasil profesi korupsi.

itulah KAPMI.. satu perjuangan dari brother..

Syukur Pada Yang Esa
Rahmat PemberianNya
Persaudaraan, Keharmonian

Jalinkan Kasih Sayang
Hulurkanlah Bantuan
Kepada Yang Memerlukannya

Mari Kita Bina Satu Ummah Majujaya
Mula Diri, Keluarga, Sahabat
Masyarakat Dan Negara

Dengan Satu Perjuangan
Satu Arah Tujuan
Di Bawah Rahmat Yang Esa

Kita Melangkah Seiringan
Satu Perjuangan

Rintangan Pasti Melanda
Jangan Undur Walau Selangkah
Teruskan Perjuangan
Hingga Ke Akhirnya
Andai Kau Gugur
Andai Kau Syahid
Kau DiridhaiNya


lagu inilah yang membuat ku teringat dengan semangat juang yang dipancarkan KAPMI. kondisi yang selalu kita rasakan karena satu perjuangan telah membuahkan semangat cinta diantara kita. tangisan yang kau keluarkan untuk sahabat, akan menjadi saksi ditengah terjang curamnya jalan dakwah yang selama ini kalian cari. jadilah bunga-bunga peradaban yang selalu memberikan keharuman nama baik generasi bangsa ini. buktikan bahwa kitalah manusia biasa yang tak pernah menyerah mengingat dosa hingga akhirnya kita takut pada neraka hingga akhirnya cita menjadi manusia yang hanya ingin mendekatkan diri pada sang Illahi.

bagaimana dengan KAPMI saat ini. mari bersama kita membangun kembali semua ini dengan penuh juang tanpa henti. yakinlah segala amanah adalah yang terbaik Allah berikan ke kita agar kita menjadi orang yang bertaqwa. jangan kau sia-siakan amanah ini tanpa kabar yang jelas terhadap sesama hingga akhirnya hanya kehancuran KAPMIlah yang kita ciptakan.

perjuangan tanpa henti mari kita tunjukkan kembali pada alam semesta ini yang lautannya membentang luas hingga seluruh alampun tersenyum oleh kita dan malaikatpun tak henti mendoakan kita agar selalu berada dijalan keridhoanNnya. hingga kita terlupa dengan segala amal yang kita perbuat agar rasa kebusungan dada tidak ada didalam hati serta jiwa raga ini. karena sebenarnya kita berada diambang kehancuran.


rapatkan barisan, kuatkan iman raih ketaqwaan.. kita kan mampu berjuang..